Ketika ditemui di UGM, dr Riris Andono Ahmad, MPH, Ph.D., yang merupakan peneliti utama EDP menuturkan bahwa proporsi nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di situs penelitian hampir mencapai angka 70 persen. Itu berarti, dari seluruh nyamuk yang ada di lokasi penelitian, 70 persennya merupakan nyamuk yang memiliki Wolbachia. Sementara itu, peneliti menargetkan angka sekitar 80 persen.
"Sampai saat ini sudah mendekati proporsi sekitar 70 persen dari populasi nyamuk yang di sana, itu sudah mengandung Wolbachia. Jadi kami mencoba untuk mencapai angka sekitar 80, kemudian kami akan berhenti melepaskan! karena kami menganggap pada angka tersebut, kami cukup yakin dia bisa berkembang biak dan bertahan di situ," terangnya ketika berbincang dengan detikHealth, seperti ditulis pada Kamis (8/5/2014).
Pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia sendiri bertujuan menguji apakah populasi nyamuk yang dikembangkan di laboratorium itu dapat bertahan di lingkungan alami. Sebab jika bertahan dan menghasilkan keturunan, nyamuk-nyamuk tersebut akan membentuk generasi nyamuk yang tak bisa menyebarkan virus dengue. Hal ini dikarenakan sifat Wolbachia yang dapat mempersingkat masa hidup nyamuk sekaligus menghalangi replikasi virus dengue. Metode ini diharapkan dapat menekan jumlah kasus DBD.
Meski demikian, kini penelitian baru menapaki tahap pengujian ketahanan nyamuk. Artinya, penyebaran nyamuk bukan dilakukan untuk menguji pengaruhnya terhadap jumlah kasus demam berdarah, yang merupakan endemi di lokasi penelitian.
"Tujuan fase ini belum sampai melihat dampak Wolb! achia terhadap penularan demam berdarah, karena yang kami laku! kan adalah untuk melihat apakah nyamuk yang memunyai Wolbachia itu bisa bertahan hidup di alam. Karena nyamuk ini merupakan sesuatu yang kami ternakkan di lab kemudian kami lepaskan di alam," tuturnya.
"Rencananya kami melepas nyamuk dalam kurun waktu sekitar 20 minggu. Setelah itu, akan kami pantau hingga akhir tahun 2015," sambung pria yang lebih akrab disapa Doni itu.
Meski persentase tersebut masih sedikit berfluktuasi dalam dua minggu terakhir, dr Doni cukup yakin dengan prospek penelitian itu pasalnya data menunjukkan tren naik. Akan tetapi, pencapaian ini baru pada dua wilayah desa saja, yakni Nogtirto dan Kronggahan. Masih ada empat desa lain yang juga akan mendapat pelepasan nyamuk.
Di Australia, penelitian serupa telah dilakukan. Setelah dua tahun masa pelepasan, proporsi nyamuk ber-Wolbachia diketahui mencapai 90%. Meski demikian mereka tak dapat melanjutkan penelitian untuk mengukur pengaruh pelepasan ini terhadap jumlah kasus DBD. Hal te! rsebut karena Australia bukan merupakan negara endemi deman berdarah. Itulah salah satu sebab mengapa Australia kemudian menjalin kerjasama dengan berbagai negara, salah satunya Indonesia.
(vit/vit)
Ingin Mendapatkan Rp 500,000 dari detikHealth ? Ceritakan Pengalaman Dietmu di Sini
Source : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656114/s/3a32fc49/l/0Lhealth0Bdetik0N0Cread0C20A140C0A50C0A80C195640A0C25776410C7630Ccegah0Edbd0Epelepasan0Enyamuk0Eber0Ewolbachia0Edi0Ediy0Ehampir0Ecapai0Etarget/story01.htm